Gobak Sodor di Kampoeng Kajoetangan Malang
Siang itu saya dan teman saya meluncur ke Kota Malang dan singgah di Kampoeng Kajoetangan, kampung jadul yang terletak di kawasan Kayutangan. Singkatnya kampung ini baru diresmikan 2018 lalu. Lokasinya berada tidak jauh dari alun-alun kota Malang. Sesampainya di gerbang kawasan, kami bingung hendak parkir sepeda motor dimana. Lekas setelah itu saya masuk didalam kawasan dan bertanya kepada seorang warga sekitar.
Bagi yang berkunjung disana diwajibkan untuk mengisi buku tamu dan membayar 5.000/orang. Setelah membayar kami mendapatkan kartu pos menarik berisi wisata budaya didalamnya. Kebetulan saya mendapatkan kartu pos "Galeri Nya'Abbas Akub" Tidak menunggu waktu lama, segeralah kaki ini berkeliling manja di kawasan tersebut. Sebelum berkeliling kami sempatkan melihat denah dan memotretnya akan tetapi tidak semudah dibayangkan. Lokasi-lokasi yang kami cari ternyata tidak mudah ditemukan. Ah ya sudahlah, yang penting jalan aja keburu matahari meredup alias maghrib menjemput.
Setelah saya menemukan tempat yang sesuai dengan kartu pos yang saya dapatkan, begitu girangnya saya. Rasanya seperti teka-teki yang terpecahkan.
Nya' Abbas Akub adalah seorang sutradara senior Indonesia Film Inem Pelayan Seksi. Kini rumah tersebut ditempati oleh adiknya yang juga seorang seniman lukisan. Keluarganya begitu ramah sekali mempersilahkan kami untuk masuk kerumah dan mencicipi camilan lebaran yang disuguhkan di meja. Banyak koleksi benda-benda antik yang amat menarik perhatian, seperti sepeda tua, scoter, hingga lukisan-lukisan dipajang penuh estetik.
Dari gang ke gang, kami menyusuri kampung Kajoetangan dibaui rasa penasaran yang cukup tinggi. Seandainya terdapat Tourguide, mungkin seharian kami akan menayakan semua hal tentang didirikannya kampung tersebut.
Selanjutnya kami plesiran ke sebuah tempat yang berada di atas, setelah menaiki tangga kami bertanya pada warga sekitar dan ternyata tempat tersebut merupakan area makam Eyang Honggo Kusumo atau dikenal dengan nama Mbah Honggo, bisa dibilang beliau adalah perintis Kampoeng Kajoetangan.
Mungkin ini yang namanya suratan takdir hehe. Kami bertanya pada seorang Bapak berkopyah dimana letak area kartu pos kedua milik teman saya "Rumah Nyik Aisyah". Dengan senang hati beliau mengantarkan kami ke lokasi yang letaknya tidak berada jauh dengan posisi kami berada, alhasil kami kaget bukan kepalang. Bapak tersebut adalah Sang pemilik rumah. Beginilah penampakannya. Rumah ini unik dan klasik. Di atap atas terdapat tambahan bangunan yang mirip seperti pelana.Rumah berikutnya adalah Gubuk Ningrat. Rumah tersebut bernuansa khas Jawa disertai perabot "lawas", hingga foto-foto keluarga. Untuk karakter rumah Ningrat terdiri dari atap rumah hingga sofa bludru serta kursi hingga perabot rumah lainnya.
Selanjutnya kami mengunjungi rumah Jamu. Rumah bercat hijau ini cukup khas sekali bila disebut rumah Jamu karena terdapat tulisan Jamu Air Mancur. Sepertinya hingga saat ini, rumah tersebut tetap dikondisikan untuk menjual jamu. Saya coba browsing tentang sejarah singkat rumah tersebut. Ayah sang pemilik rumah (Bu Esther) dulu merupakan seorang sinshe. Rupanya kini, bu Esther tetap setia menjual jamu udek yang khas sobat. Amazing!!!
Meski rasa lelah sudah menyelimuti kaki ini, namun tidak menyurutkan langkah untuk melanjutkan penelusuran. Berikutnya ke Rumah Tua Jacoeb. Kalau diamati dari segi luar, rumah ini masih khas sekali dengan jendela berteralis besi. Di sudut ruang tamu terdapat cermin oval dengan bingkai kayu. Rasa khas "jadul" akan lebih terasa jika anda melihat setiap sudut isi rumahnya. Tidak ada bosannya melipir di kampung Kajoetangan, terdapat pula rumah Kebaya, Rumah Penghulu, Rumah Belanda, Rumah Cerobong, dan masih banyak lagi.
Rumah 1870 ini juga memiliki daya tarik tersendiri menurut saya. Simpel namun berkesan. Atap rumahnya terdapat ukiran kayu yang ditata rapi, terdapat jendela dengan ukuran panjang di kanan dan kiri pintu. Di teras rumah juga dipasang pagar kayu sederhana. Di Kawasan Kajoetangan juga terdapat pasar krempyeng hingga arena bermain tradisional seperti egrang, congklak, gobak sodor, balap bakiak, hingga permainan kelereng. Auto mengingat masa kecil dong jadinya. Uhuk.
Tak ketinggalan juga kami mampir berfoto di depan rumah Jengki. Entahlah apa arti rumah Jengki tapi yang pasti bentuk rumah ini tidak seperti pada umumnya. Atap rumah berbentuk segitiga yang runcing. Dengan nuansa warna hijau rumah ini tampak asri dan tetap keren buat spot foto.
Terimakasih atas perjalanannya kali ini sobatku Siti Maghfiroh.Kapan-kapan kita ngetrip ke tempat menarik lainnya.
Pesan saat berkunjung kesana, meskipun kita disambut ramah oleh warga tapi bukan berarti kita seenaknya sendiri untuk merusak apalagi mencoret-coret. Pastikan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Supaya lingkungan tetap terjaga dengan baik. See You Next Time.
Aku ada diantara bising dan diam.
Kamu tahu? Hidup terlalu berisik.
Bila sekedar mengungkit tahta dan asa.
Mari merangkak sejenak.
Malang menunggu cintamu beranjak.
W.Arum
Kamu tahu? Hidup terlalu berisik.
Bila sekedar mengungkit tahta dan asa.
Mari merangkak sejenak.
Malang menunggu cintamu beranjak.
W.Arum
Lokasi : Jl. Jend. Basuki Rachmat Gg. VI, Kauman, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119, Indonesia


Komentar
Posting Komentar